Cari Blog Ini

DAERAH ASAL


SAMPIT
KOTAWARINGIN TIMUR
Sampit, adalah ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur (KOTIM) yang berada di Kalimantan Tengah. Kota Sampit terletak di tepi sungai Mentaya. Dalam Bahasa Dayak Ot Danum , sungai Mentaya ini merupakan sungai utama dan dimanfaatkan sebagai prasarana perhubungan disampit. Sungai Mentaya adalah sungai kebanggan masyarakat Sampit karena panjang dan luas. Oleh karena itu sampit disebut sebagai Kota Mentaya.
Menurut beberapa sumber , kata SAMPIT berasal dari Bahasa Cina yang berarti “31” (sam=3, it=1). Disebut 31 karena pada masa itu yang datang  ke daerah ini adalah rombongan 31 orang Cina yang kemudian melakukan kontak dagang serta membuka usaha perkebunan (Masdipura; 2003).



Tradisi Mandi Safar dan Tradisi Simah Laut Pesona Budaya Kabupaten Kotawaringin Timur
Tradisi Mandi Safar merupakan kegiatan yang unik dan setiap tahun selalu dilaksanakan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Tradisi ini selalu dilaksanakan tiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, tradisi ini dikenal dengan nama “Mandi Safar” yaitu tradisi mandi dengan bercebur ke Sungai Mentaya, sungai terbesar yang ada di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin, Kalimantan Tengah.


Mandi dengan bercebur ke sungai ini mengandung filosofi membersihkan diri dari hal-hal negatif sehingga diharapkan bisa terhindar dari bala bencana dan kesialan seiring bersihnya badan usai mandi bercebur di Sungai Mentaya. Biasanya Mandi Safar ini dipusatkan di sekitar dermaga Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM). Tradisi ini diikuti dari berbagai penjuru Kota Sampit dan kawasan luar kota dengan berbekal pelampung atau ban dalam yang kemudian mereka gunakan untuk mandi di Sungai Mentaya. Sebelum seremonial mandi Safar, acara diawali dengan pembacaan doa dengan harapan Kotim dan masyarakatnya.

SIMAH LAUT
Tradisi Simah Laut. Tradisi Simah merupakan tradisi budaya yang dilakukan turun temurun oleh nelayan di Kecamatan Teluk Sampit. Kegiatan tahunan itu dilaksanakan di pantai Ujung Pandaran dan kini dikemas menarik menjadi salah satu agenda pariwisata andalan Kotim. Simah laut dipimpin seorang tokoh masyarakat atau orang yang dituakan oleh nelayan setempat. Tradisi itu mirip dengan tradisi nelayan di daerah lain, yakni melarung beberapa jenis benda ke laut. Sebelum acara inti, dilakukan doa bersama oleh ulama setempat  mendoakan agar kondisi laut di tahun mendatang lebih baik sehingga hasil tangkapan nelayan lebih banyak. Masyarakat juga berdoa agar diberi kese­lamatan. Usai berdoa, pemimpin acara membawa miniatur perahu dan digotong ke atas kapal. Selanjutnya, miniatur pera­hu dibawa ke tengah laut kemudian diturunkan dan dilarung ke laut.




CIRI KHAS SAMPIT
Patung Jelawat sudah menjadi Ikon Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah.
Bagi mereka yang datang ke Bumi Habaring Hurung ini kebanyakan menyempatkan diri untuk melihat dari dekat taman patung ikan jelawat yang ada di Pinggiran Sungai Mentaya Sampit.
Bagi warga Kotim Patung Jelawat memang sudah dikenal sejak lama, karena di Sungai Mentaya memang banyak populasi ikan jelawat bahkan petani ikan karamba di Kecamatan Baamang pun sejak turun temurun berusaha pembibitan ikan ini.
Melihat sejarah ikan jelawat yang menjadi pencaharian sebagian warga Sampit sejak lama itulah Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur Dua Priode H Supian Hadi dan Wakilnya, HM Taufik Mukti (SAHATI) kemudian membangun taman patung jelawat yang ada di bantaran Sungai Mentaya Sampit.
Beberapa warga yang datang ke Sampit kebanyakan menyempatkan diri untuk singgah hanya sekadar untuk berfoto di lokasi yang setiap hari dipadati warga Kotawaringin Timur ini.

Taman Kota Sampit adalah sebuah taman publik di Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Taman ini diresmikan oleh bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi pada 21 Februari 2015. Area taman ini sebelumnya merupakan bekas lapangan sepak bola.


Taman Kota merupakan ruang terbuka hijau yang menjadi tempat favorit masyarakat untuk bersantai dan berolahraga. Selama ini di sekeliling kawasan tersebut juga dipenuhi pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai jenis kebutuhan, termasuk beragam jenis kuliner.
Tugu Perdamaian Sampit
Mengakhiri Tragedi Sampit tahun 2000-2001, di Km. 6 Sampit ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) didirikan sebuah Tiang Perdamaian. Tiang tinggi menjulang itu, tentunya dimaksudkan untuk memperingatkan semua orang agar Tragedi berdarah yang tidak menguntungkan siapa pun itu tidak terulang lagi dan jangan sekali-kali diulang.
Dalam masyarakat majemuk seperti di Kotim, serta Kalteng secara keseluruhan, Tiang Perdamaian bersejarah itu, sekarang masih berdiri di tempatnya semula. Niscayanya patut dirawat dan diperlakukan sebagai Monumen Utama, bukan embel-embel dan ditepikan. Bukanlah mustahil, apabila orang-orang ke Sampit yang tak luput dari pertanyaan adalah Tragedi Sampit 2000-2001 dan di sinilah Tiang Perdamaian membantu kita bertutur. Tiang ini dari segi sejarah merupakan salah-satu ikon Sampit dan bahkan ikon Kalteng. Tiang Perdamaian ini jauh lebih berarti dari Patung Manjuhan (Jelawat) yang baru dibangun dan secara politik, sejarah, kultural serta linguistik sulit dipertanggungjawabkan. Seniscayanya juga, Tragedi Sampit yang berdarah itu diperingati saban tahun agar penduduk tidak gampang lupa dan melupakan sejarah. Apakah memperingati Tragedi itu akan membuka luka lama? Bisa jadi, tapi barangkali ketika luka itu menganga, orang-orang diingatkan kembali tentang bagaimana niscayanya hidup dalam masyarakat majemuk dengan menerapkan prinsip di mana langit dijunjung, di situ bumi dibangun sesuai kedudukan sebagai warganegara Republik dan anak bangsa bernama Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN

     KEPEMIMPINAN 1. Apa perbedaan mencolok era orde baru dan pasca reformasi: peran birokrat dan sukses kepemimpinan kepala daerah...